17 September 2018

Kerja berlebihan itu tidak baik, tapi kenapa banyak orang masih melakukannya?

Kerja berlebihan itu tidak baik, tapi kenapa banyak orang masih melakukannya?

Lembur juga membuat Anda lebih rawan terhadap berbagai macam penyakit.(Getty Images)

Oleh : P2PTM Kemenkes RI

Kerja terus-terusan meningkatkan risiko kecelakaan, meningkatkan tingkat stres, dan bahkan menyebabkan rasa sakit fisik. Tapi masalahnya, banyak orang tidak bisa tidak melakukannya.

Menurut statistik terbaru dari Organisasi Buruh Internasional, lebih dari 400 juta pekerja di seluruh dunia bekerja 49 jam atau lebih per minggu, proporsi yang cukup besar dari hampir 1,8 miliar total tenaga kerja di seluruh dunia.

Dalam wawancara baru-baru ini dengan surat kabar New York Times, bahkan pengusaha Elon Musk merasa tergerak untuk menceritakan bahwa ia melalui ulang tahunnya yang ke-47 dengan mengunci diri di pabriknya, bekerja sepanjang malam. "Tanpa teman, tanpa apa-apa," tuturnya.

Bagi Musk, itu mungkin sama saja dengan hari-hari lain dalam pekerjaannya, yang mencapai 120 jam seminggu. "(Pekerjaan) ini benar-benar membuat saya mengorbankan waktu untuk bertemu anak-anak saya. Dan teman-teman, " imbuhnya.

Bagi beberapa penggemarnya, ini hanyalah harga untuk menjadi manusia-setengah-dewa di Silicon Valley saat ini, sang pelopor yang secara bersamaan berusaha mewujudkan kolonisasi Mars dan menciptakan mobil listrik yang terjangkau dan diproduksi secara massal.

kerja, lembur, kantor
Sebuah studi pada 2016 menemukan bahwa kadar kortisol (hormon yang berperan dalam stres) orang-orang 'panggilan' meningkat lebih cepat di pagi hari dibandingkan orang-orang yang tidak harus siap bekerja kapan saja.(foto GETTY IMAGES)

Tapi memperlakukan kelelahan sebagai lencana kehormatan menetapkan preseden yang berbahaya. Berjibaku selama berjam-jam dan selama akhir pekan telah menjadi kebiasaan pokok dalam budaya start-up di Silicon Valley—dan karenanya, juga telah merembes ke berbagai belahan dunia.

Saat menulis artikel ini, sebuah kiriman muncul di Facebook saya dari grup perusahaan perintis di Kolombia: 'Angkat tangan Anda jika Anda sekarang sedang mengerjakan perusahaan, ide, atau bisnis Anda!' Disertai emoji tinju.

Kiriman itu mendapat 160 suka, bahkan beberapa hati. Kiriman itu dikomentari oleh 38 pengusaha yang bangga, masing-masing membubuhkan URL proyek mereka. Itu terjadi di hari Sabtu, hampir pukul sepuluh malam.

Masalahnya adalah budaya 'lembur' ini cenderung kontraproduktif dalam mencapai tujuan menyelesaikan lebih banyak hal, atau setidaknya menetapkan harga yang sangat besar untuk melakukannya.

Ada banyak bukti bahwa kerja lembur mengurangi produktivitas Anda serta membuat Anda merasa, dan benar-benar menjadi, kurang sehat. Lembur juga membuat Anda lebih rawan terhadap berbagai macam penyakit.

Tetap saja, jutaan pekerja tampaknya tidak mampu berhenti melakukannya, dari petugas kesehatan sampai pekerja 'gig economy' dan pekerja lepas. Lalu apa yang terjadi? Dan, apa yang bisa kita – yang tidak dapat menahan diri untuk bekerja pada Sabtu malam – lakukan terkait hal itu?

Bagaikan mabuk

Sekilas tampaknya sudah jelas: orang yang terlalu banyak bekerja lelah; maka lebih mungkin untuk mengalami kecelakaan di tempat kerja. Tetapi membuktikan ini ternyata sangat sulit.

Mungkin hal tersebut dikarenakan pekerjaan berisiko juga memiliki jam kerja yang lebih menuntut, atau orang yang bekerja lebih lama menghabiskan lebih banyak waktu dalam risiko, bahkan jika mereka tidak lembur.

Tapi sebuah studi yang menganalisis 13 tahun catatan pekerjaan di AS menemukan bahwa "pekerjaan dengan jadwal lembur terkait dengan tingkat bahaya cedera 61% lebih tinggi dibandingkan dengan pekerjaan tanpa lembur".

Studi tersebut tidak menyebutkan bahwa kelelahan adalah penyebab utama peningkatan risiko ini, tetapi ada banyak bukti yang menunjukkan bahwa itu mungkin terjadi.

Misalnya, jika Anda bangun pada jam 8 pagi dan masih bangun pada jam 1 pagi hari berikutnya (berarti Anda sudah bangun selama 17 jam penuh), kinerja fisik Anda kemungkinan akan lebih buruk daripada jika Anda memiliki konsentrasi alkohol dalam darah sebesar 0,05%.

Ini adalah level yang rata-rata didapatkan oleh seorang pria dengan berat badan 73kg jika dia minum dua kaleng bir 355ml. Ya, Anda bagaikan mabuk saat kerja lembur.

kerja, lembur, kantor
Lebih dari 400 juta pekerja di seluruh dunia bekerja 49 jam atau lebih per minggu, menurut Organisasi Buruh Internasional.(foto GETTY IMAGES)

Jika Anda tetap terjaga sampai jam 5 pagi, kerusakannya akan sama dengan memiliki konsentrasi alkohol dalam darah 0,1%—lebih dari 0,08% yang dianggap sebagai batasan yang diizinkan untuk mengemudi oleh hukum di sebagian besar negara di dunia.

Jadi, begadang akan membuat kinerja fisik Anda (seperti waktu reaksi atau koordinasi) Anda terganggu seolah-olah Anda terlalu mabuk untuk mengemudi. Dan jika Anda tidak dapat mengemudi, dapatkah Anda bekerja dengan aman dan kompeten?

Mungkin mengetik di komputer tidak terlalu berisiko, tetapi ini adalah sesuatu yang pasti layak dipertimbangkan ketika melakukan pekerjaan manual atau fisik, atau jika pekerjaan Anda menuntut perhatian terhadap detail.

'Cambuk' algoritmik

Tetap saja, banyak orang merasa terjebak dalam siklus—mereka bergantung pada kerja lembur untuk memenuhi kebutuhan dan membayar tagihan mereka. Mereka terjebak dalam sistem yang memberi insentif kepada mereka untuk bekerja selama berjam-jam, atau untuk bekerja sepanjang malam jika klien mereka tinggal di zona waktu lain.

Contohnya, ini sering terjadi pada pekerja 'gig economy' di Asia Tenggara dan Afrika, yang disewa oleh perusahaan atau pengusaha di AS, Inggris atau Eropa melalui platform freelancer untuk melakukan hal-hal seperti coding, menulis blog, membuat situs web, atau mengelola media sosial.

Penelitian baru-baru ini yang dipimpin oleh Alex J Wood, dari Oxford Internet Institute, mengungkap bahwa algoritma yang memberikan tugas kepada para pekerja ini adalah pendorong kuat untuk kerja lembur yang terus-terusan.

Pada dasarnya, semakin tinggi peringkat Anda di platform ini, semakin besar peluang Anda untuk dipekerjakan. Akan tetapi untuk mendapatkan ulasan yang bagus ini, para pekerja harus mengakomodasi semua yang diinginkan klien mereka, dengan sedikit ruang untuk negosiasi demi mendapatkan kondisi yang lebih baik.

"Mereka harus tersedia untuk berkomunikasi kapanpun mereka diinginkan. Jika klien memberi tenggat yang sangat singkat, mereka harus menerimanya. Jika tidak, mereka akan diberi peringkat buruk," kata Wood dalam sebuah wawancara.

Jika si pekerja tidak berada di peringkat teratas, tekanan ini meningkat. Beberapa mencoba untuk menarik lebih banyak pekerjaan dengan memasang upah yang sangat rendah, memaksa mereka untuk bekerja dengan jam kerja yang sangat panjang untuk sedikit uang.

Selain itu, sebagian besar dari para pekerja ini juga menginvestasikan sejumlah besar tenaga kerja tidak dibayar pada pekerjaan admin seperti menyiapkan profil, menawar untuk pekerjaan di platform, dan mempelajari keterampilan untuk membuat profil yang lebih menarik. Semua pekerjaan ini menambah rutinitas yang sangat panjang dan melelahkan.

Seperti dikatakan seorang responden dalam penelitian Wood berkata, "Saya bangkrut, ini ada orang yang siap memberi saya uang, jadi kenapa saya tidak mau kerja 18 jam sehari?"

Pola-pola ini tampaknya ditemukan di banyak bidang gig economy. Beberapa laporan di ASmenyebutkan bahwa beberapa pengemudi yang bekerja untuk perusahaan berbagi-kendaraan mengemudi sampai 20 jam sehari untuk mengambil keuntungan dari lonjakan harga.

Dan di Inggris, Uber membatasi penggunaan terus-menerus aplikasinya oleh para pengemudi sampai 10 jam, setelah diminta oleh parlemen.

Hak ataskerja lembur, protes 
Sebuah studi yang menganalisis 13 tahun catatan pekerjaan di AS menemukan bahwa "pekerjaan dengan jadwal lembur terkait dengan tingkat bahaya cedera 61% lebih tinggi". (foto GETTY IMAGES)

Menurut Wood, "dampak yang paling jelas adalah berkurangnya waktu tidur," yang memperkuat lingkaran setan dari sedikit istirahat dan bekerja lembur.

"Orang-orang akan menjadi lebih produktif jika mereka tidak bekerja lembur. Tetapi cara menjalankan bisnisnya tidak mendukung seseorang memaksimalkan produktivitas itu karena mereka harus bekerja larut malam demi memenuhi tenggat waktu." Platform freelance telah dikritik karena mendorong gaya hidup tidak sehat seperti ini.

Penelitian Wood tidak menunjukkan berapa banyak dari pekerja 'gig economy' ini yang benar-benar bekerja untuk waktu yang sangat lama, dan ia menjelaskan bahwa kondisi kerja biasanya jauh lebih baik bagi para freelancer di Eropa, Inggris dan Amerika Serikat, yang memiliki keterampilan lebih khusus dan jauh lebih banyak kekuatan tawar-menawar.

Namun demikian, di negara-negara berkembang, ada tanda-tanda bahwa siklus kerja berlebihan ini telah mendarah daging. Lebih dari separuh pekerja yang diwawancarai oleh Wood dan timnya mengatakan bahwa mereka harus bekerja dengan kecepatan sangat tinggi, 60% bekerja dengan tenggat yang ketat, dan 22% mengalami sakit fisik akibat pekerjaan mereka.

Selalu 'siap dihubungi'

Era di mana pekerjaan berakhir ketika orang meninggalkan kantor sudah lama berlalu. Memeriksa dan menjawab pesan dari pekerjaan tampaknya tidak dapat dihindari—dan bahkan disukai bagi sebagian orang, karena mereka merasa hal itu memungkinkan mereka untuk mengungguli pesaing, atau menghabiskan lebih banyak waktu bersama keluarga sambil memantau pekerjaan mereka.

Seperti yang ditulis oleh makalah akademis pada tahun 2006 dari Ian Towers, seorang peneliti dari SRH Hochschule di Berlin, teknologi seluler "meningkatkan ekspektasi: para manajer dan kolega kini berharap staf hampir selalu siap untuk bekerja".

Tetapi 'siap dihubungi' tidak sama dengan tidak bekerja, dan cara tubuh kita bereaksi terhadap kedua situasi itu sangatlah berbeda.

Sebuah studi pada 2016 menemukan bahwa kadar kortisol (hormon yang berperan dalam stres) orang-orang 'panggilan' meningkat lebih cepat di pagi hari dibandingkan orang-orang yang tidak harus siap bekerja kapan saja, bahkan jika mereka tidak berakhir bekerja pada hari itu.

Konsentrasi hormon ini biasanya pada puncaknya ketika kita bangun, dan berkurang selama sisa hari. Tetapi para ilmuwan percaya faktor stres di kehidupan sehari-hari mengganggu siklus ini dengan berbagai cara: level kortisol naik lebih cepat ketika Anda mengharapkan hari yang penuh tekanan (para peneliti percaya hal inilah yang terjadi pada kasus ini), levelnya tetap tinggi jika Anda mengalami stres kronis, dan tidak akan naik jika Anda mengalami 'sindrom kelelahan'—yang biasanya didahului oleh periode stres kronis.

Akibatnya, orang-orang juga merasa lebih sulit "melepaskan pikiran dari kerja dari non-kerja" ketika mereka sedang dalam keadaan 'siap dihubungi'. Mereka juga merasa lebih sulit untuk melakukan kegiatan yang benar-benar mereka inginkan—sifat yang disebut para peneliti sebagai 'kontrol'.

Dengan kata lain: pekerja tidak merasa bahwa waktu luang yang mereka punya saat sedang 'siap dihubungi' benar-benar milik mereka, dan tingkat stres mereka meningkat.

Oleh karena itu, para peneliti menyimpulkan bahwa hari-hari di luar kantor saat pegawai tetap dituntut selalu siap untuk bekerja "tidak bisa dianggap sebagai waktu luang, karena pemulihan – fungsi penting dari waktu luang – terbatas dalam keadaan seperti itu".

Lalu apa yang harus dilakukan?

Bekerja lembur selama berhari-hari bukan hal yang cerdas, walaupun Anda adalah Elon Musk. Kabar tentang rutinitas kerjanya yang tidak sehat tidak diterima dengan baik oleh para investor, dan saham Tesla menurun 8,8% segera setelah wawancara dengan NYT, di tengah kecurigaan akan buruknya kesehatan mental Musk.

Anggap kisah ini sebagai pelajaran: jika Anda dapat menghindari kerja lembur selama berhari-hari, lakukan saja, karena cara bekerja seperti itu tidak memberi efek positif pada kesehatan Anda, kesejahteraan Anda, maupun produktivitas Anda. Bahkan jika Anda berpikir bahwa Anda adalah pengecualian, karena kemungkinan besar Anda bukan.

Masalahnya, ada para pekerja lepas yang sangat rentan, yang tampaknya tidak punya kesempatan untuk menghentikan siklus kerja berlebihan dan produktivitas yang semakin berkurang.

Akar masalahnya, seperti dikatakan Wood, adalah bahwa "klien dapat merusak pendapatan pekerja di masa depan", sementara si pekerja lepas memiliki sedikit kekuatan tawar-menawar.

Agaknya kita tidak bisa berharap para platform freelancer mengubah keadaan ini, terutama ketika model bisnis seperti ini memungkinkan mereka untuk meraup miliaran dolar setiap tahunnya.

Sementara itu, jika Anda kebetulan menyewa pekerja lepas lewat dunia maya, mungkin akan lebih baik jika Anda memberikan si pekerja beberapa waktu tambahan: mungkin mereka tidak hanya akan bekerja lebih baik, tetapi kehidupan mereka juga bisa menjadi jauh lebih baik karenanya.(BBC Capital)


Artikel Sebelumnya
Jam Tidur Yang Reguler Penting Bagi Kesehatan Jantung Dan Metabolisme
Artikel Selanjutnya
Diabetes Tipe 2 Bisa Diwariskan Secara Genetis

Upcoming Agenda
03 Desember 2019

Hari Disabilitas Internasional 2019

14 November 2019

Hari Diabetes 2019

12 November 2019

Hari Kesehatan Nasional 2019

29 Oktober 2019

Hari Psoriasis Sedunia 2019

Selengkapnya
Newsletter

Tetap terhubung dengan kami untuk Update info terbaru agenda-agenda PTM Kementerian Kesehatan Indonesia