07 Oktober 2019

Katarak Penyebab Tertinggi Kebutaan di Indonesia

Katarak Penyebab Tertinggi Kebutaan di Indonesia

Direktur Jenderal P2P dr Anung Sugihantono, Ketua PP Persatuan Dokter Spesialis Mata Indonesia (Perdami) dr. M. Siddik, Sp. M, pada pers briefing dalam rangka Hari Penglihatan Sedunia 2019 di Gedung Kemenkes, Jakarta (7/10).

Oleh : P2PTM Kemenkes RI

Hasil Survei Kebutaan Rapid Assessment of Avoidable Blindness (RAAB) tahun 2014 – 2016 oleh Persatuan Dokter Spesialis Mata Indonesia (Perdami) dan Badan Litbangkes Kementerian Kesehatan di lima belas provinsi (Sumatera Barat, Sumatera Utara, Sumatera Selatan, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Selatan, Bali, NTB, NTT, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, Maluku dan Papua Barat) diketahui angka kebutaan mencapai 3% dan katarak merupakan penyebab kebutaan tertinggi (81%). Survey tersebut dilakukan dengan sasaran populasi usia 50 tahun ke atas.

“Saat ini kurang lebih 90 persen ganggguan penglihatan terdapat di wilayah penduduk berpenghasilan rendah, 82 persen kebutan terjadi pada usia 50 tahun atau lebih. Sebenarnya 80 persen gangguan penglihatan termasuk kebutaan dapat dicegah dan ditangani,” kata Ketua PP Persatuan Dokter Spesialis Mata Indonesia (Perdami) dr. M. Siddik, Sp. M, di Gedung Kemenkes, Jakarta (7/10).

Diperkirakan pengeluaran rata-rata per pasien yang mengalami kebutaan adalah hampir dua kali lipat dari biaya lainnya dan untuk buta dengan dua mata diperkirakan akan mengeluarkan biaya berkisar 12.175 – 14.029 US $ atau sekitar 170 juta sampai dengan 196 juta rupiah. Belum lagi ditambah dengan biaya tidak langsung yang cukup besar karena kerugian produktivitas.

Jika dibiarkan rawan terjadi tsunami katarak. Dr. Siddik menjelaskan, tsunami katarak maksudnya adalah bahwa dengan bertambahnya Usia Harapan Hidup (UHH) diperkirakan pada tahun 2030 itu semua pendudk di atas usia 50 tahun akan banyak, sekitar 25%.

“Itu usia dimana seseorang rawan menderita katarak. Jadi jumlah penderita katarak pasti bertambah banyak,” ucapnya.

Tren umur harapan hidup Indonesia terus meningkat secara siginifikan. Rata-rata UHH meningkat dari usia 63 tahun pada 1990 mejadi 69 tahun pada tahun 2017. Ini artinya peningkatan usia harapan hidup akan berdampak pada peningkatan penyakit – penyakit degeneratif.

Dampaknya akan terjadi peningkatan kasus katarak, dan gangguan penglihatan lainnya yang diakibatkan oleh penyakit degeneratif seperti Diabetes Melitus dan Glaukoma.

Gangguan penglihatan bisa menyerang semua umur termasuk bayi dan balita. Mereka merupakan salah satu kelompok berisiko terhadap gangguan penglihatan, karena ini perlu meningkatkan kepedulian terhadap ancaman gangguan penglihatan terutama kebutaan yang dapat dicegah. Skrining dan deteksi dini kunci utama menemukan kasus sedini mungkin dengan intervensi yang tepat.

Selain itu, keberadaan gawai diasumsikan menambah penderita myopia mata minus. Hal tersebut diakibatkan karena jarak penglihatan ke gawai terlalu dekat dan terus-menerus. Dampaknya kesehatan mata berkurang.

Hal serupa juga rawan terjadi pada seseorang yang bekerja di depan computer. Dr. Siddik menganjurkan dalam menggunakan komputer gunakan rumus 20 20 20, artinya 20 menit bekerja, 20 menit istirahat sambil melihat benda dengan jarak 20 feet.

Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit dr. Anung Sugihantono mengatakan gangguan penglihatan dengan penyebab lainnya seperti Glaukoma, retinopati Diabetikum, Retinopathy of Prematurity (ROP) dan low vision menjadi prioritas program Kemenkes saat ini. Glaukoma dan retinopati diabetikum dijadikan prioritas mengingat meningkatnya angka penyandang diabetes.

Diperkirakan 1 dari 3 penderita diabetes berisiko terkena Retinopati Diabetikum, dan pasien dengan diabetes memiliki risiko 25 kali lebih mudah mengalami kebutaan akibat retinopati. Penyakit – penyakit tidak menular merupakan salah satu faktor risiko gangguan penglihatan dan kebutaan.

“Pemerintah terus melakukan edukasi kepada masyarakat terhadap pencegahan gangguan penglihatan (katarak), juga deteksi dini di Fasyankes (Fasilitas Layanan Kesehatan) primer terintegrasi dengan penyakit tidak menular lainnya,” kata Dirjen Anung.

Tingkatkan Kepedulian Masyarakat

Hari Penglihatan Sedunia diperingati sejak tahun 1999, setiap tahun pada hari Kamis minggu kedua bulan Oktober. Tahun ini dengan tema-internasional : “Vision First” dan tema-nasional : “Mata Sehat, SDM Ungggul”.

“Harapan dari peringatan Hari Penglihatan Sedunia tahun ini adalah meningkatnya kepedulian masyarakat terhadap kesehatan mata, menyebarluaskan informasi dan edukasi terkait pencegahan dan pengendalian gangguan penglihatan kepada masyarakat, serta meningkatkan upaya deteksi dini gangguan penglihatan di masyarakat dan sekolah,” kata Dirjen Anung.


Artikel Sebelumnya
Wapres Jusuf Kalla: Program Komunitas Sehat, Menuju Hidup Sehat
Artikel Selanjutnya
Bangsa Indonesia Yang Sehat, Bermutu, Produktif Dan Berdaya Saing Tinggi Menuju Tercapainya Sdm Unggul