05 Mei 2017

Pengendalian Penyakit Thalassemia

 Pengendalian Penyakit Thalassemia
Oleh : aulia

Untuk mewujudkan derajat kesehatan yang setinggi-tingginya bagi masyarakat maka diselenggarakan upaya kesehatan yang terpadu dan menyeluruh  dalam  bentuk  upaya  kesehatan  perseorangan (UKP)  dan upaya kesehatan masyarakat (UKM). Upaya kesehatan diselenggarakan dalam bentuk kegiatan dengan pendekatan promotif, preventif, kuratif, dan
rehabilitatif   yang   dilaksanakan   secara   terpadu,   menyeluruh,   dan  berkesinambungan.

        Thalassemia  mayor  belum  dapat  disembuhkan,  oleh  karena  itu program yang umum dilakukan adalah mencegah lahirnya penderita baru Thalassemia mayor. Pencegahan Thalassemia ada 3 jenis yaitu:

  1. Pencegahan Primer
  2. Pencegahan Sekunder
  3. Pencegahan Tertier

 A. Pencegahan Primer Thalassemia

1. Promosi dan Komunikasi Informasi Edukasi (KIE)

a.Promosi Kesehatan

b.Komunikasi Informasi dan Edukasi (KIE)

                        Pengetahuan mengenai penyakit Thalassemia memegang peranan yang sangat penting dalam program pencegahan Thalassemia di masyarakat. Edukasi tentang penyakit Thalassemia yang bersifat genetik dan diturunkan, serta kasus ”carier” nya di masyarakat.

Pendidikan genetika sebaiknya mulai dini diajarkan di sekolah-sekolah, demikian pula pengetahuan tentang gejala  awal Thalassemia. Pengetahuan ini juga sangat penting bagi pasangan  yang  ingin  melangsungkan  pernikahan (calon pengantin)  perlu  mendapatkan   pengetahuan   tentang penyakit-penyakit  yang  dapat  diturunkan  sehingga  timbul awarenes (mawas diri) pada calon pasangan tersebut. Jika  pernikahan   tetap   dilanjutkan,   mereka   diinformasikan kemungkinan  mendapat  anak  dengan  Thalasemia  dan pilihan yang dapat dilakukan untuk menghindarinya.

                        Salah satu cara yang dilakukan dengan memasukkan materi tentang Thalassemia ke dalam kurikulum pendidikan tingkat sekolah  menengah, penyebaran  informasi melalui media massa (cetak dan elektronik), jaringan internet, brosur dan leafleat, serta  menyelenggarakan kegiatan untuk memperingati  hari Thalassemia  sedunia  yang melibatkan seluruh komponen masyarakat.

Tujuan KIE adalah:

  1. Untuk menumbuhkan sikap serta  mempengaruhi  dan merubah   perilaku   masyarakat   dalam   pengendalian penyakit Thalassemia
  2. Untuk meningkatkan kemandirian masyarakat dalam pengendalian penyakit Thalassemia
  3. Untuk meningkatkan motivasi dan partisipasi masyarakat serta merangsang kegiatan masyarakat dalam pengendalian penyakit Thalassemia.

Sasaran KIE adalah:

a. Tenaga kesehatan

b. Masyarakat umum keluarga   dan   kelompok   yang berpengaruh dan berperan di masyarakat).

Kegiatan KIE meliputi:

  1. Menyiapkan materi   penyuluhan   dan   mengadakan pelatihan KIE dan penanggulangan penyakit Thalassemia kepada  petugas  kesehatan (medis  dan  para  medis), kader   kesehatan   maupun   tokoh-tokoh   yang   ada   di masyarakat termasuk guru disekolah.
  2. Melaksanakan KIE  tentang  penyakit  Thalassemia  dan faktor risikonya melalui berbagai jalur media penyuluhan
  3. Penyuluhan perorangan atau penyuluhan kelompok yang dilaksanakan oleh petugas Puskesmas, Posbindu PTM, kader kesehatan dan lain-lain seperti layanan konseling edukasi penyakit Thalassemia
  4. Penyuluhan bagi pasien dan keluarga tentang pencegahan dan penanggulangan penyakit Thalassemia.
  5. Pengendalian populasi berisiko

Populasi yang berisiko adalah:

a. Seseorang yang mempunyai riwayat anggota keluarga yang menderita Thalassemia, dengan atau tanpa anemia

b. Seseorang dengan anemia disertai MCV dan MCH kurang dari normal (MCV < 80 fL, MCH < 27pg)

c. Seseorang dengan kadar Hb normal dengan MCV dan MCH kurang dari normal (MCV < 80 fL, MCH < 27pg),

Populasi berisiko ini memerlukan informasi, edukasi dan konseling genetik tentang Thalassemia yang bertujuan untuk meningkatkan pemahaman dan mawas diri (awareness).


Artikel Sebelumnya
Penyakit Thalassemia Mayor
Artikel Selanjutnya
Posbindu Lampung Timur