02 Oktober 2018

“Mata Sehat Untuk Semua”.

“Mata Sehat Untuk Semua”.
Oleh : P2PTM Kemenkes RI

WSD 2018: “Eye Care Everywhere”  

World Sight Day (WSD) atau Hari Penglihatan Sedunia diperingati sejak tahun 1999, setiap  tahun pada  hari Kamis minggu kedua  bulan Oktober.

Kegiatan ini dimaksudkan untuk menyebarluaskan informasi  kepada  seluruh masyarakat di dunia agar memberikan  perhatian, berperanserta, dan mendukung penanggulangan masalah gangguan penglihatan dan kebutaan demi  terwujudnya Visi 2020 : Hak setiap orang untuk dapat melihat secara optimal”

 Hari Penglihatan Sedunia tahun 2018 diperingati dengan tema-internasional : Eye Care Everywhere” dan tema-nasional : Mata Sehat Untuk Semua.

 Hari Penglihatan Sedunia tahun ini memfokuskan pada :

1) masalah akses pelayanan kesehatan mata sehingga semua orang dan dimana pun memperoleh pelayanan yang baik dan sesuai standar,

2) Edukasi dan sosialisasi kepada kelompok berisiko terutama bayi dan balita, anak sekolah, orang tua serta mereka yang menderita Diabetes maupun hipertensi agar menjaga kesehatan mata,

3) Deteksi dini gangguan penglihatan  pada anak usia sekolah melalui kegiatan penjaringan kesehatan anak sekolah pada program UKS,

4)  Pemberdayaan masyarakat untuk mendukung upaya penjangkauan populasi berisiko gangguan penglihatan dan berjenjang sesuai indikasi rujukan.

Pemerintah mengajak seluruh masyarakat untuk bersama sama  berpartisipasi dan mendukung peringatan Hari Penglihatan Sedunia 2018, karena gangguan penglihatan dan kebutaan dapat mempengaruhi kualitas hidup dan produktifitas manusia Indonesia, sehingga perlu menjadi perhatian bagi seluruh masyarakat untuk dapat dicegah secara dini.

Peta Jalan Penanggulangan Gangguan Penglihatan  2018-2030 

Hasil Survei Kebutaan Rapid Assessment of Avoidable Blindness atau RAAB tahun 2014 – 2016 di lima belas provinsi di Indonesia diketahui bahwa angka kebutaan mencapai 3%. Penyebab kebutaan terbanyak adalah katarak sebesar 81%.

Data ini menjadi fokus program penanggulangan gangguan penglihatan dan kebutaan di Indonesia,  pada penanggulangan katarak, gangguan refraksi dan gangguan penglihatan dengan penyebab lainnya.

Meningkatnya kasus Diabetes Melitus dan Hipertensi berdampak pada meningkatnya Retinopati Diabetikum yaitu 1 dari 3 pasien Diabetes memiliki risiko 25 kali lebih mudah mengalami kebutaan akibat retinopati dibandingkan dengan yang non

Untuk menjadikan komitmen menjadi karya-nyata dalam mewujudkan  Vision 2020 :The Right to Sight dan memperhatikan Hasil Survey RAAB, Kementerian Kesehatan telah merumuskan Peta Jalan Penanggulangan Gangguan Penglihatan  2018-2030 dalam mencapai target   : Tahun 2030  setiap orang di Indonesia mempunyai penglihatan optimal dan dapat sepenuhnya mengembangkan potensi dirinya.

Peta jalan ini adalah  acuan  Penanggulangan Gangguan Penglihatan yang dilakukan oleh Pemerintah Pusat dan  Daerah bersama Masyarakat, termasuk :  organisasi profesi kesehatan mata, pihak swasta, dunia usaha , dan berbagai pemangku kepentingan kesehatan mata guna mewujudkan Indonesia Sehat Mata 2030.

Beberapa tantangan yang perlu mendapat perhatian kita adalah :

1). Meningkatnya usia harapan hidup mempengaruhi peningkatan gangguan penglihatan sebagai penyebab kebutaan utama. Usia lanjut akan berdampak pada peningkatan gangguan penglihatan secara langsung  yakni katarak dan secara tidak langsung yakni retinopati diabetikum, glaukoma serta gangguan penglihatan dengan penyebab lainnya.

2). Kelainan refraksi merupakan penyebab utama gangguan penglihatan yang saat ini banyak terjadi pada anak-anak kita. Kondisi tersebut dapat berpengaruh pada kecerdasan siswa dan proses penerimaan informasi dalam kegiatan belajar. Deteksi dini atau skrining gangguan refraksi pada anak, khususnya anak sekolah dasar sangat penting dilakukan.

3). Gangguan penglihatan bisa menyerang semua umur termasuk bayi dan balita. Mereka merupakan salah satu kelompok berisiko terhadap gangguan penglihatan, karena ini perlu meningkatkan kepedulian terhadap ancaman gangguan penglihatan terutama kebutaan yang dapat dicegah. Skrining dan deteksi dini kunci utama menemukan kasus sedini mungkin dengan intervensi yang tepat.

Menjawab tantangan tersebut, maka dilakukan upaya-upaya sebagai berikut :

Deteksi dini gangguan penglihatan dimulai dari tingkat masyarakat melalui Posbindu PTM yang dilakukan oleh kader terlatih, dilanjutkan deteksi dini di puskesmas oleh dokter dan tenaga kesehatan terlatih serta dilakukan rujukan ke rumah sakit yang memiliki dokter spesialis mata untuk penanganan lebih lanjut. Saat ini terdapat 1.635 puskesmas di 22 provinsi yang memiliki dokter dan tenaga kesehatan yang sudah mampu melaksanakan deteksi dini gangguan penglihatan. 

Deteksi dini juga dilakukan pada pada bayi dan balita melalui Deteksi Dini dan Intervensi Dini Tumbuh Kembang (SDIDTK)  sedangkan untuk anak sekolah dilakukan penjaringan kesehatan di sekolah melalui Upaya Kesehatan Sekolah (UKS).

Masyarakat dapat mencegah dan mengendalikan faktor risiko terjadinya gangguan penglihatan dengan :

a. Menjaga kesehatan mata dan menghindari paparan sinar ultraviolet, kebiasaan membaca terlalu dekat, mengunakan elektonic/gadged yang lama dan terus menerus.

b. Selalu PATUH untuk periksa kesehatan dan berobat bagi penderita Diabetes, Hipertensi dan Penyakit Tidak Menular lainnya

c. Berperilaku CERDIK yaitu C cek kesehatan secara berkala, E enyahkan asap rokok, R rajin aktivitas fisik, D diet sehat dan seimbang, I istirahat cukup dan K kelola stress Minum alkohol

d. Deteksi dini gangguan penglihatan melalui Posbindu PTM maupun fasilitas pelayanan kesehatan jika mengalami keluhan mata seperti melihat kabur atau berkabut, silau, sering ganti kacamata dan keluhan mata lainnya

SIGALIH

SIGALIH (Sistem Informasi Penanggulangan Gangguan Penglihatan) yang merupakan sistem informasi berbasis web bagi kader dan tenaga kesehatan terlatih untuk memudahkan pendataan deteksi dini gangguan penglihaan ditingkat UKBM (Posbindu), Puskesmas dan Rumah Sakit.

SIGALIH ini bertujuan agar kasus yang ditemukan pada saat skrining dapat segera di tindaklanjuti sesuai indikasi, sehingga masyarakat dapat segera terlayani dan terhindar dari risiko kebutaan.

Diharapkan Sistem Informasi ini akan memperkuat data kasus yang di skrining dan menguatkan sistem rujukan kasus –kasus gangguan penglihatan yang perlu ditangani.

Kementerian Kesehatan menghimbau kepada segenap Gubernur, Bupati dan Walikota dan seluruh mayarakat Indonesia untuk mendukung pelaksanaan Penanggulangan Gangguan Penglihatan Dan Kebutaan dengan melibatkan seluruh lapisan masyarakat, kalangan swasta, dunia usaha, LSM, profesi, asosiasi, dan insititusi pendidikan.

Hari Penglihatan Sedunia merupakan momentum yang tepat untuk Menyampaikan :

1) informasi kepada seluruh masyarakat, bahwa masalah kebutaan merupakan salah satu masalah kesehatan di masyarakat,

2) kebutaan  dapat dicegah, diobati dan direhabilitasi sejak dini, serta

3) pentingnya keterlibatan lintas sektor dalam pencegahan dan penanggulangan gangguan penglihatan dan kebutaan melalui kegiatan promotif, skrining/deteksi dini gangguan penglihatan dan kebutaan di masyarakat, yang ditindaklanjuti dengan tindakan korektif atau pengobatan sesuai indikasi pada tingkatan fasilitas pelayanan kesehatan yang sesuai.

Kiranya dengan adanya seluruh rangkaian kegiatan peringatan Hari Penglihatan Sedunia tahun 2018  maka diharapkan akan memberikan dampak nyata terhadap masyarakat dalam mewujudkan manusia Indonesia yang berkualitas, produktif dan berdaya saing di tingkat global.

Press Briefing World Sight Day 2018 di Gedung Adhyatma, Kemenkes, 
Jl H.R Rasuna Said Jakarta (1 Oktober 2018 - Foto oleh Nur Annisa)

Artikel Sebelumnya
Penguatan Upaya Pengendalian Konsumsi Rokok Sangat Dibutuhkan
Artikel Selanjutnya
Sigalih Aplikasi Berbasis Web/android Untuk Deteksi Dini Gangguan Penglihatan Di Posbindu

Upcoming Agenda
24 Oktober 2018

Hari Dokter Nasional

20 Oktober 2018

Hari Osteoporosis Sedunia

19 Oktober 2018

Pra-HKN 54 Pasar Kramat Jati

10 Oktober 2018

Hari Kesehatan Jiwa Sedunia

Selengkapnya
Newsletter

Tetap terhubung dengan kami untuk Update info terbaru agenda-agenda PTM Departemen Kesehatan Indonesia