13 Mei 2019

Kelelahan Jadi Pemicu Meninggalnya Petugas Pemilu

Kelelahan Jadi Pemicu Meninggalnya Petugas Pemilu

Ilustrasi : stres berkepanjangan dan kurang istirahat di tempat kerja yang mengakibatkan kelelahan

Oleh : P2PTM Kemenkes RI

Sekretaris Jenderal Kemenkes RI drg. Oscar Primadi, MPH mengatakan banyaknya petugas Pemilu yang meninggal dipicu oleh kelelahan. Hal ini dapat dipahami mengingat sebelumnya petugas tersebut telah mengidap penyakit tertentu sebagai faktor risiko.

Oscar menyontohkan seorang petugas yang meninggal memiliki penyakit jantung. Seharusnya seseorang dengan faktor risiko penyakit ini tidak boleh terlalu lelah. Namun, saat bertugas, ia dituntut untuk menyelesaikan pekerjaan dengan cepat dan tepat. Inilah yang berdampak pada jantungnya.

Hingga saat ini, telah diterima laporan dari 17 provinsi yang menunjukkan bahwa meninggalnya petugas Pemilu bukan karena kelelahan, melainkan kelelahan menjadi pemicu penyakit yang diidap oleh petugas menjadi semakin parah.

“Kita melihat beberapa provinsi yang sudah kita dapatkan datanya kita melihatnya tidak ada hal yang berhubungan langsung (dengan kelelahan), tapi berkaitan dengan penyakit bawaan yang diderita petugas, di mana kelelahan menjadi trigger dari pada ini (meninggalnya petugas Pemilu),” kata Sekjen, Senin (13/5) di Jakarta.

Terjadinya kematian itu, tambah Oscar, setelah diinvestigasi, korban memiliki penyakit dan terpicu karena kelelahan.

“Ada 13 penyakit, yang paling mendominasi jantung, kemudian infarct myocard, koma hepatikum, stroke, dan hipertensi. Ini penyakit-penyakit yang memang sisi angka Riskesdas 2018 penyakit ini banyak diderita oleh masyarakat kita. Ini yang memang berkaitan dengan penyakit tidak menular,” katanya.

Berdasarkan Riskesdas 2018, prevalensi stroke sebesar 10,9 perseribu penduduk, meningkat dari angka Riskesdas 2013 yang hanya 7 perseribu penduduk.

Penyakit jantung 1,5 % pada Riskesdas 2018, sementara Riskesdas 2013 menunjukkan prevalensi jantung koroner berdasarkan pernah didiagnosis dokter di Indonesia sebesar 0,5%, dan berdasarkan diagnosis dokter atau gejala sebesar 1,5 %. Prevalensi gagal jantung berdasarkan pernah didiagnosis dokter di Indonesia sebesar 0,13 persen, dan berdasarkan diagnosis dokter atau gejala sebesar 0,3%.

Untuk hipertensi Riskesdas 2018 menunjukkan angka 8,4% berdasarkan diagnosis dokter, dan 8,8% diagnosis berdasarkan dokter atau minum obat antihipertensi. Sementara pada Riskesdas 2013 menunjukkan 9,4% diagnosis dokter dan 9,5% diagnosis berdasarkna dokter dan minum obat antihipertensi.

Sekjen juga mengatakan TPS yang banyak polusi asap rokok dapat memperburuk kondisi kesehatan petugas.

Namun demikian, sebelum pelaksanaan pencoblosan pada 17 April 2019, Kemenkes sudah berkomunikasi dengan teman-teman daerah, di dinas kesehatan dan rumah sakit untuk waspada.

“Kemudian pada 22 April 2019, Kemenkes menegaskan dengan surat edaran untuk membantu membackup teman-teman (petugas Pemilu) yang bertugas di lapangan untuk menyiapkan posko kesehatan dan alhamdulilah itu bergerak seluruh Indonesia dan kita backup betul,” ucap Sekjen.

(Rokomyanmas)


Artikel Sebelumnya
Tindak Lanjut Kemenkes: Tim Kesehatan Antisipasi Masalah Kesehatan Pasca Pemilu
Artikel Selanjutnya
Petugas Pemilu Meninggal Di 24 Provinsi Sudah Terdata

Upcoming Agenda
03 Desember 2019

Hari Disabilitas Internasional 2019

14 November 2019

Hari Diabetes 2019

12 November 2019

Hari Kesehatan Nasional 2019

29 Oktober 2019

Hari Psoriasis Sedunia 2019

Selengkapnya
Newsletter

Tetap terhubung dengan kami untuk Update info terbaru agenda-agenda PTM Kementerian Kesehatan Indonesia