28 September 2018

Hari Jantung Sedunia 2018 ; “MY HEART, YOUR HEART”

Hari Jantung Sedunia 2018 ; “MY HEART, YOUR HEART”

dr. Bambang Dwiputra, SpJP dari PERKI ; dr. Cut Putri Arianie, MH.Kes, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular ; Moderator Indra Rizon pada acara Media Briefing Hari Jantung Sedunia 2018 di gedung dr. Adhyatma Kementerian Kesehatan Jakarta, 27 September 2018

Oleh : P2PTM Kemenkes RI

Hari Jantung Sedunia diperingati setiap tanggal 29 September. Peringatan Hari Jantung Sedunia (HJS) tahun 2018 mengangkat tema “My Heart, Your Heart”. Melalui tema HJS tahun ini kita diajak untuk melakukan perubahan kecil dalam hidup kita, membuat sebuah janji sederhana untuk kesehatan jantung kita, dan kesehatan jantung orang-orang yang kita sayangi, seperti berkomitmen mengonsumsi makanan yang lebih sehat, beraktivitas fisik lebih baik, berhenti merokok, dan lain-lain.

Penyakit Jantung Koroner  (PJK) adalah  gangguan fungsi jantung akibat otot jantung kekurangan darah karena adanya penyempitan pembuluh darah koroner. Secara klinis, ditandai dengan nyeri dada atau rasa tidak nyaman di dada atau dada terasa tertekan berat ketika sedang mendaki/kerja berat ataupun berjalan terburu-buru pada saat berjalan di jalan datar atau berjalan jauh.  

Penyakit jantung  koroner terdiri  dari  penyakit jantung  koroner stabil  tanpa gejala, angina pektoris stabil, dan Sindrom Koroner Akut (SKA). Penyakit jantung koroner stabil tanpa gejala  biasanya  diketahui   dari  skrining,  sedangkan angina  pektoris stabil  didapatkan gejala nyeri dada bila melakukan aktivitas yang melebihi aktivitas sehari-hari.  

Data WHO tahun 2015 menunjukkan bahwa 70% kematian di dunia disebabkan oleh Penyakit Tidak Menular (39,5 juta dari 56,4 kematian). Dari seluruh kematian akibat Penyakit Tidak Menular (PTM) tersebut, 45% nya disebabkan oleh Penyakit jantung dan pembuluh darah, yaitu 17.7 juta dari 39,5 juta kematian.

 Prevalensi PJK nasional berdasarkan Riskesdas 2013 sebesar 1,5%, tertinggi di Prov Nusa Tenggara Timur (4,4%) dan terendah di Provinsi Riau (0,3%). Prevalensi PJK pada umur ≥ 15 tahun menurut karakteristik, didapatkan sebagai berikut:

1. Kelompok umur : tertinggi pada kelompok umur 65 – 74 tahun

>75 tahun 3,2%,

65-74 tahun 3,6%,

55-64 tahun 2,8%,

45-54 2,1%,

35-44 tahun 1,3%,

25-34 tahun 0,9%, dan

15-24 tahun 0,7%

2. Jenis Kelamin : lebih tinggi pada perempuan dibanding laki-laki

    Laki-laki 1,3%, dan

    Perempuan 1,6%. 

3. Pendidikan : lebih tinggi pada masyarakat tidak bersekolah dan tidak tamat SD

    tidak sekolah 2,8%,

    tidak tamat SD 2,3%,

    tamat SD 1,7%,

    tamat SMP 1,1%,

    tamat SMA 1,0%, dan

    tamat D1-D3 dan

    PT 1,1%.

4. Status pekerjaan : paling tinggi pada masyarakat yang tidak bekerja

      Tidak bekerja 1,6%,

pegawai 0,9%,

wiraswasta 1,2%,

Petani/Nelayan/Buruh

1,6%, dan

lainnya 1,3%.

5. Tempat tinggal : lebih tinggi di perdesaan dibanding perkotaan

    perdesaan 1,6%, dan

    perkotaan 1,4%.

6. Status ekonomi : paling tinggi pada status ekonomi terbawah

      tingkat terbawah 2,1%,

menengah bawah 1,6%,

menengah 1,4%,

menengah atas 1,3%, dan

teratas 1,2%.

 

 

dr. Cut Putri Arianie, MH.Kes memberikan keterangan pers pada acara Media Briefing Hari Jantung Sedunia 2018 
di gedung dr. Adhyatma Kementerian Kesehatan Jakarta, 27 September 2018

Sample Registration System (SRS) Indonesia tahun 2014 menunjukkan PJK merupakan penyebab kematian tertinggi kedua setelah stroke, yaitu sebesar 12,9% dari seluruh penyebab kematian tertinggi di Indonesia.

Data Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan (BPJS) menunjukkan adanya peningkatan beban biaya kesehatan akibat PJK setiap tahunnya. Hal ini terlihat dari tahun 2014 yang menghabiskan 4,4 Trilyun Rupiah dan kemudian meningkat menjadi 7,4 Trilyun Rupiah pada tahun 2016. Dari angka ini tampak adanya peningkatan biaya kesehatan untuk PJK sebesar 68,2%.

PJK dapat dicegah dengan pengendalian perilaku yang berisiko seperti penggunaan tembakau, diet yang tidak sehat dan obesitas, kurang aktivitas fisik serta penggunaan alkhohol. Menurut data Riskesdas, faktor risiko perilaku utama yang menjadi tantangan dalam upaya pengendalian Penyakit Tidak Menular di Indonesia adalah :

  • Sekitar 93,5% penduduk usia >10 tahun kurang konsumsi buah dan sayur
  • Sekitar 36,3% penduduk usia >15 tahun merokok, perempuan berusia > 10 th yang merokok sekitar 1,9%
  • Sekitar 26,1% penduduk kurang aktivitas fisik
  • Sekitar 4,6% penduduk >10 tahun minum minuman beralkhohol

Faktor perilaku tersebut, merupakan penyebab terjadinya PTM seperti hipertensi, diabetes melitus, dislipidemia yang merupakan pintu masuk terjadinya PJK.

 

dr. Bambang Dwiputra, SpJP dari PERKI sebagai Narasumber pada acara Media Briefing 
Hari Jantung Sedunia 2018 di gedung dr. Adhyatma Kementerian Kesehatan Jakarta, 27 September 2018

Dalam pencegahan dan pengendalian penyakit tidak menular termasuk PJK, pemerintah fokus pada upaya promotif dan preventif dengan tidak meninggalkan upaya kuratif dan rehabilitatif. Diantaranya dengan:

  • Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS) sesuai dengan Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 2017, yang tahun ini difokuskan pada kegiatan deteksi dini, peningkatan aktivitas fisik serta konsumsi buah dan sayur;

  • Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga, sejalan dengan agenda ke-5 Nawacita yaitu meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia yang dimulai dari keluarga, diantaranya penderita hipertensi berobat teratur dan tidak ada anggota keluarga yang merokok;

  • Meningkatkan gaya hidup sehat dengan perilaku “CERDIK”, yaitu Cek kesehatan secara berkala, Enyahkan asap rokok, Rajin aktifitas fisik, Diet sehat dan seimbang, Istirahat cukup, Kelola stres;

  • Melakukan pola hidup “PATUH” bagi penyandang PTM khususnya PJK, yaitu Periksa kesehatan secara rutin, Atasi penyakit dengan pengobatan yang tepat, Tetap aktivitas fisik dengan aman, Upayakan diet sehat dan gizi seimbang, Hindari asap rokok, minuman beralkohol dan zat karsinogenik lainnya.

Sesi Tanya Jawab pada acara Media Briefing Hari Jantung Sedunia 2018 
di gedung dr. Adhyatma Kementerian Kesehatan Jakarta, 27 September 2018

Kementerian Kesehatan juga mengajak kita semua untuk melakukan perubahan sederhana dalam aktivitas sehari-hari dengan menghidupkan perilaku CERDIK agar mendapatkan jantung yang sehat dengan tagline “Hidup CERDIK, JANTUNG Sehat”.

 

 

   Narasumber, Awak Media, Blogger dan Panitia  berfoto bersama dengan simbol 
Heart sebagai tema Internasional Hari Jantung Sedunia 2018
"My Heart, Your Heart" dan tema Indonesia "Hidup CERDIK, Jantung Sehat"










Artikel Sebelumnya
Indonesia Bawa Senam Poco-poco Ke Pertemuan Who Rc-71 Di India
Artikel Selanjutnya
Anak Juga Bisa Diabetes