08 Desember 2016

Program Penatalaksanaan Asma

Program Penatalaksanaan Asma
Oleh : omeoo

Tujuan utama penatalaksanaan asma adalah meningkatkan dan mempertahankan kualitas hidup agar penderita asma dapat hidup normal tanpa hambatan dalam melakukan kegiatan sehari-hari. Di Indonesia prevalensi asma mencapai 4.5% dengan estimasi jumlah pasien asma 11.2 jiwa. Prevalensi terendah berada di Propinsi Lampung, sebesar 1.6%, sedangkan prevalensi tertinggi adalah di Sulawesi Tengah sebanyak 7.8%. Jumlah pasien asma terendah di Papua Barat sekitar 26 ribu jiwa. Terbanyak adalah di Jawa barat dengan jumlah 2.2 juta jiwa. Walaupun asma tidak dapat disembuhkan,  manajemen yang tepat dapat mengendalikan penyakit ini dan orang dengan asma dapat menikmati hidup yang lebih baik dan berkualitas. Pengobatan jangka pendek digunakan untuk menghilangkan gejala. Pengobatan dengan jangka panjang menggunakan inhalasi steroid diperlukan untuk mengendalikan progres dari asma yang berat.

Tujuan penatalaksanaan asma:

- Menghilangkan dan mengendalikan gejala asma

- Mencegah eksaserbasi akut

- Meningkatkan dan mempertahankan faal paru seoptimal mungkin

- Mengupayakan aktivitas normal termasuk melakukan olahraga

- Menghindari efek samping obat

- Mencegah terjadi keterbatasan aliran udara (airflow limitation) ireversibel

- Mencegah kematian karena asma

Program Penatalaksanaan Asma

Penatalaksanaan asma dilakukan melalui berbagai pendekatan yang dapat dilaksanakan (applicable), mempunyai manfaat, aman dan dari segi harga terjangkau. Integrasi dari pendekatan tersebut dikenal dengan : Program penatalaksanaan asma, yang meliputi: - Edukasi - Menilai dan monitor berat asma secara berkala - Identifikasi dan mengendalikan faktor pencetus - Merencanakan dan memberikan pengobatan jangka panjang - Menetapkan pengobatan pada serangan akut - Kontrol secara teratur - Pola hidup sehat Diagnosis Asma Diagnosis asma didasari oleh gejala yang bersifat episodik, gejala berupa batuk, sesak napas, mengi, rasa berat di dada dan variabiliti yang berkaitan dengan cuaca. Anamnesis yang baik cukup untuk menegakkan diagnosis, ditambah dengan pemeriksaan jasmani dan pengukuran faal paru terutama reversibiliti kelainan faal paru, akan lebih meningkatkan nilai diagnostik. Riwayat penyakit/gejala: bersifat episodik, seringkali reversibel dengan atau tanpa pengobatan, gejala berupa batuk, sesak napas, rasa berat di dada dan berdahak, gejala timbul/memburuk terutama malam/dini hari, diawali oleh faktor pencetus yang bersifat individu, serta respons terhadap pemberian bronkodilator. Hal lain yang perlu dipertimbangkan dalam riwayat penyakit: riwayat keluarga (atopi), riwayat alergi / atopi, penyakit lain yang memberatkan, perkembangan penyakit dan riwayat pengobatan (misalnya pasien sudah sering menggunakan obat inhaler).

Perencanaan Pengobatan Jangka Panjang Medikasi Asma:

Medikasi asma ditujukan untuk mengatasi dan mencegah gejala obstruksi jalan napas, terdiri atas pelega dan pengontrol. Penatalaksanaan asma bertujuan untuk mengontrol penyakit, disebut sebagai asma terkontrol. Asma terkontrol adalah kondisi stabil minimal dalam waktu satu bulan.

Pelega (Reliever):

Prinsipnya untuk dilatasi jalan napas melalui relaksasi otot polos, memperbaiki dan atau menghambat bronkostriksi yang berkaitan dengan gejala akut seperti mengi, rasa berat di dada dan batuk, tidak memperbaiki inflamasi jalan napas atau menurunkan hiperesponsif jalan napas.

Pengontrol (Controllers):

Pengontrol adalah medikasi asma jangka panjang untuk mengontrol asma, diberikan setiap hari untuk mencapai dan mempertahankan keadaan asma terkontrol pada asma persisten.


Artikel Sebelumnya
Penapisan Kanker Leher Rahim Lewat Kunjungan Tunggal (tes Iva)
Artikel Selanjutnya
Sarapan Sehat, Aktivitas Lancar