12 April 2018

Pencegahan Sakit Kurangi Beban Ekonomi Rp 16.900 Triliun

Pencegahan Sakit Kurangi Beban Ekonomi Rp 16.900 Triliun
Oleh : P2PTM Kemenkes RI

Apabila pemerintah tidak melakukan apapun hingga 2035, total beban perekonomian mencapai Rp 70.200 triliun.

Indonesia bisa mengurangi beban perekonomian hingga US$ 1,3 triliun, sekitar Rp 16.900 triliun. Caranya, dengan mengatasi angka kematian akibat beberapa penyakit tidak menular, seperti jantung, stroke, dan diabetes melitus.

Peneliti University of Manchester, Gindo Tampubolon, mengatakan penghematan dapat dilakukan apabila pemerintah berfokus kepada pengurangan kematian penyakit tersebut. Sebaliknya, apabila pemerintah tidak melakukan apapun hingga 2035, total beban perekonomian mencapai US$ 5,4 triliun, sekira Rp 70.200 triliun.

“Fokus saja di penyakit tidak menular seperti kardiovaskular (jantung koroner, stroke). Beban kita terpotong US$ 1,3 triliun pada 2035,” kata Gindo di seminar Non-Communicable and Lifestyle Disease di Hotel J.W. Marriott, Jakarta, Kamis,19 Mei 2015.

Besaran tersebut dihitung berdasarkan produktivitas yang hilang -dengan variabel usia kematian di bawah 60 tahun- dan biaya perawatan secara akumulatif. Metode penghitungannya menggunakan Reynold Scores.

Menurut Gindo, upaya pencegahan ini penting dilakukan. Bila masalah mortalitas tidak ditangani, beban pemerintah akan makin besar. Sebaliknya, jika beban ekonomi dapat dikurangi, Indonesia akan jauh lebih kompetitif ketimbang negara-negara tetangga. Apalagi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) mulai berlaku.

Niken Wastu Palupi membenarkan hasil penelitian tersebut. Kepala Sub Direktorat Kanker, Direktorat Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan ini mengatakan beban biaya pelayanan medis akibat penyakit jantung, stroke, ginjal, diabetes, dan kanker pada tahun lalu mencapai hampir Rp 13 triliun.

Pencegahan Stroke dan Jantung (Katadata)

Sedangkan untuk biaya rawat inap akibat penyakit tidak menular pada 2014 sebesar Rp 4,2 triliun. “60 sampai 70 persen biaya Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) habis untuk penyakit tidak menular ini,” kata Niken.

Dari segi mortalitas, data Kementerian Kesehatan pada 1990 menunjukkan tiga penyakit menular masih mendominasi lima besar penyebab kematian di Indonesia. Namun sepuluh tahun kemudian, empat penyakit tidak menular -stroke, jantung koroner, kanker, dan diabetes melitus- merupakan penyebab kematian utama di Indonesia.

Niken mengatakan pergeseran penyebab kematian ini dikarenakan beberapa faktor. Namun hubungan paling jelas dapat dikaitkan dengan gaya hidup. Data Kementerian Kesehatan mencatat 26,1 persen penduduk Indonesia kurang beraktivitas secara fisik, lalu 36,3 persen penduduk di atas usia 15 tahun merupakan perokok aktif.

Sementara itu, 4,6 persen penduduk di atas 10 tahun gemar mengkonsumsi minuman beralkohol. “93,5 persen penduduk Indonesia di atas 10 tahun juga minim asupan buah dan sayur,” kata Niken.

Masalah juga terlihat pada kewajiban pemerintah memenuhi anggaran kesehatan nasional sebesar lima persen. Direktur dan peneliti Evidence & Analytics Maria Fajarini mengatakan anggaran kesehatan sebesar itu belum tercapai.

Hal sama terlihat pada dana kesehatan di daerah yang belum mencapai 10 persen. Padahal alokasi anggaran yang memadi sangat diperlukan. Apalagi tiga dari empat orang Indonesia meninggal karena penyakit tidak menular. Lebih-lebih, kini penyakit tersebut menyerang masyarakat produktif.(Katadata-Sabtu 21/5/2016, 15.00 WIB )


Artikel Sebelumnya
1 Dari 3 Balita Indonesia Derita Stunting
Artikel Selanjutnya
Cegah Penderita Baru, Kemenkes Rumuskan Aturan Skrining Talasemia