18 Juni 2019

Mengapa pendiri Apple dan Facebook justru batasi anak menggunakan produk teknologi di rumah

Mengapa pendiri Apple dan Facebook justru batasi anak menggunakan produk teknologi di rumah

Anak-anak yang ceria bermain di luar ruang. Sedikit terpapar teknologi memungkinkan untuk memaksimalkan penggunaan semua indra yang dapat memberikan makanan kepada otak. Kemampuan manusia secara holistik tidak berkembang di depan layar.(Foto :GettyImages)

Oleh : P2PTM Kemenkes RI

Sebagian pembuat aplikasi dan teknologi yang banyak kita pakai saat ini, sekarang sedang berusaha agar anak-anak mereka justru tidak menggunakan produk teknologi tersebut.

Di antara generasi wiraswastawan Silicon Valley yang mendirikan sejumlah perusahaan teknologi terbesar dunia, sebagian dari mereka sekarang telah menjadi orang tua dan beberapa dari mereka secara terbuka membatasi akses anak-anak mereka terhadap alat-alat yang banyak kita pakai.

Pendiri Apple, almarhum Steve Jobs, pada tahun 2011 mengakui bahwa dirinya dan istrinya, Laurene Powell, membatasi jumlah teknologi yang boleh digunakan anak-anak mereka di rumah.

Pendiri Microsoft, Bill Gates juga dikenal membatasi paparan terhadap layar berbagai alat dan melarang penggunaan telepon genggam di meja.

Sementara Mark Zuckerberg-nya Facebook pada tahun 2017 menulis surat kepada anak perempuannya, August, yang mendorongnya untuk "ke luar rumah dan bermain-main".

Tetapi mengapa para orang tua Silicon Valley ini berusaha memisahkan anak mereka dari layar berbagai alat teknologi?

Masa kanak-kanak bebas teknologi

Pierre Laurent adalah seorang eksekutif teknologi San Francisco Bay Area dan direktur Waldorf School of the Peninsula - sebuah sekolah swasta populer Silicon Valley yang melarang penggunaan teknologi sampai murid berumur belasan tahun.

Laurent, yang mengirim ketiga anaknya ke sekolah itu mengatakan kepada BBC bahwa pekerjaan tiga perempat dari sesama orang tua murid di sekolah itu berkaitan dengan teknologi.

Sekolah mengatakan kepada mereka untuk memperhatikan pengaruh merusak teknologi pada proses belajar anak.

"Anda tidak bisa belajar dan sepotong kecil kaca ketika Anda masih anak-anak. Anda harus menggunakan semua indra, Anda perlu dapat memberikan makanan kepada otak dengan apapun yang Anda miliki," kata Laurent.

Bertentangan

Waldorf pertama kali dikenal ketika laporan media mulai menyampaikan kontradiksi yang terlihat jelas di Silicon Valley.

Di sinilah - di jantung sektor teknologi dunia - dimana kami menemukan sekolah yang mementingkan apa yang dinamakan "pendidikan holistik (bagi) perasaan dan otak".

Kurikulumnya dipusatkan para "keterampilan abad ke-21" seperti keyakinan diri, dispilin, kemandirian berpikir, kerja sama dan ekspresi seni.

"Kemampuan manusia ini tidak berkembang di depan layar. Anda harus benar-benar terlibat dalam membuat sesuatu dan melakukan berbagai hal itu sendiri," kata Laurent.

Persiapan memasuki dunia nyata

Meskipun pesan itu sejalan dengan generasi baru orang tua Silicon Valley, banyak orang lain meyakini bahwa teknologi adalah alat yang diperlukan untuk abad ke-21 - keduanya untuk belajar di dalam kelas dan berhasil di luar ruangan.

Merve Lapus adalah seorang direktur senior Common Sense Media, sebuah organisasi yang memberikan masukan kepada sejumlah keluarga terkait dengan hiburan dan teknologi digital.

Dia menghabiskan waktu hampir sepuluh tahun untuk menganalisa dan memandu orang tua terkait dengan kemungkinan keuntungan dan kerugian penggunaan teknologi di ruangan kelas.

"Ya, (teknologi) dapat menyita perhatian, jadi bagaimana kita mengatasi hal ini? Karena terlalu banyak kesempatan (bagi anak untuk menggunakan teknologi) tetapi kita juga harus mempersiapkan mereka menghadapi dunia nyata, yang memerlukan seluruh hal ini," katanya.

"Ketika Anda memikirkan masyarakat yang mengatakan: 'Kami akan mengambil berbagai alat tersebut', mereka biasanya adalah masyarakat yang anak-anaknya memiliki akses ke teknologi di rumah. Itu benar-benar tidak terjadi pada masyarakat berpenghasilan rendah."

Menemukan keseimbangan

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) baru-baru ini mengeluarkan panduan baru dalam mengurangi jumlah pemaparan kepada layar yang diusulkan bagi anak-anak.

Anak-anak sampai berumur dua tahun seharusnya tidak dibiarkan sendirian menonton TV atau layar lainnya, kata WHO. Batasan bagi anak berumur dua sampai empat tahun adalah satu jam atau kurang per harinya.

Tetapi Lapus menekankan tidak semua paparan terhadap layar dapat dipandang sama - dan dia mengutip tantangannya sendiri saat membesarkan dua anaknya yang berumur enam dan delapan tahun.

"Mereka seharusnya tidak sedini itu terpapar pada layar," dia mengakui.

"Tetapi kenyataannya adalah saya harus memasak makanan malam. Dan Sesame Street adalah cara terbaik agar perhatian mereka tersita."

"Saya dapat menghidangkan makanan di meja. Mereka dapat menonton sedikit Sesame Street. Tetapi sebagai orang tua saya memandang adalah tugas saya untuk menanyakan apa yang telah mereka pelajari."

Sementara lama paparan terhadap layar tetap menjadi masalah yang diperdebatkan, Laurent mengatakan penggunaan teknologi tidaklah sama dengan sama sekali membatasi akses.

"Ini bukan berarti kita harus menolaknya sama sekali dan mengatakan bahwa kita seharusnya tidak pernah menggunakan komputer seumur hidup," katanya.

"Yang diperlukan adalah pemahaman kapan saat yang terbaik untuk melakukan itu, dan melakukannya saat anak dan murid berumur berapa tahun agar mereka mampu menggunakannya."(BBC)

#GangguanIndera #KelolaStres  #AktifitasFisik


Artikel Sebelumnya
Perokok Berisiko Tinggi Terserang Stroke Berkali-kali
Artikel Selanjutnya
Orang-orang Ini 'miliki Jantung Tersehat Di Dunia'

Upcoming Agenda
14 November 2019

Hari Diabetes 2019

12 November 2019

Hari Kesehatan Nasional 2019

29 Oktober 2019

Hari Psoriasis Sedunia 2019

29 Oktober 2019

Hari Stroke Sedunia 2019

Selengkapnya
Newsletter

Tetap terhubung dengan kami untuk Update info terbaru agenda-agenda PTM Kementerian Kesehatan Indonesia