14 Mei 2019

Kisah payudara buatan untuk para penyintas kanker.

Kisah payudara buatan untuk para penyintas kanker.

Desy Pujiarsi pembuat payudara buatan untuk penyintas kanker payudara.(foto : BBC Indonesia)

Oleh : P2PTM Kemenkes RI

Kanker payudara menempati posisi pertama dari keseluruhan penyakit kanker yang diidap masyarakat Indonesia. Para penyintas penyakit ini pun berusaha merekonstruksi penampilan demi mengembalikan kepercayaan diri.

Mereka yang berhasil menuntaskan operasi kini mulai memakai busa dan knoker atau rajutan khusus berbentuk payudara.

Di benak Murni Restu Ginanjar hanya ada dua hal: kematian atau kehilangan. Jika ia terus menunda-nunda keputusannya, maka nyawa jadi taruhan. Sementara ia, belum sanggup melepas salah satu organ tubuhnya.

"Saya butuh waktu sebulan sebelum akhirnya setuju operasi. Karena diangkat semua dan saya kehilangan sesuatu yang penting bagi saya sebagai wanita," ucap Murni dengan suara pelan.

"Saya kehilangan payudara, ya gimana ya? Biasanya ada... tiba-tiba nanti saya tidak punya payudara," sambungnya.

Usia Murni saat itu masih 25 tahun. Suatu malam di bulan Maret, ia merasakan sakit luar biasa di bagian payudara sebelah kiri. Tapi esoknya, lenyap. Nyeri itu pun diabaikan.

"Saya tidak terlalu ambil pusing. Ohh.. mungkin sakit biasa."

Selang tiga bulan, sakit yang sama datang. Tapi kali ini, terus-terusan dan membuatnya tak bisa tidur semalaman. Orangtuanya lalu memutuskan membawa Murni ke rumah sakit umum untuk diperiksa.

"Sakitnya kayak ditusuk-tusuk jarum," kata Murni sambil mengingat.

Dari situ, ia disarankan ke dokter spesialis onkologi dan hasil biopsi menunjukkan ada tumor ganas sebesar bola pingpong, bersembunyi di payudara kirinya.

Begitu divonis kanker payudara Stadium II, Murni tak bisa menahan tangis. Ia dibayangi kematian.

"Ternyata benjolannya ke dalam, jadi tidak kelihatan dari luar. Puting payudara saya juga ketarik ke dalam."

"Gimana ya, besok masih hidup atau mati. Persepsi kanker pasti kematian."

kanker payudaraMurni Restu Ginanjar, penyintas kanker payudara.(Foto BBC Indonesia)

Butuh waktu sebulan untuk Murni mengambil keputusan, apakah setuju mengangkat seluruh payudara kirinya. Sebab beberapa anggota keluarga tak setuju. Tapi rekan kerjanya di rumah sakit menyarankan agar segera diambil tindakan. Kalau tak dilakukan, kanker itu akan semakin menjalar.

Murni mengikuti saran kedua. Pada November tahun 2016 di RS Santosa Bandung, ia dioperasi. Setelahnya menjalani kemoterapi sebanyak sembilan kali dan sesudahnya suntik terapi hormon selama dua tahun.

"Saya kena kanker ini karena hormon estrogenn kebanyakan. Saya terlalu subur. Terapi hormon ini supaya estrogennya stabil," ujar Murni sambil tertawa.

Hanya memiliki satu payudara, percaya diri Murni sempat hilang.

"Kadang ada yang lihatin, kenapa gitu... pandangannya berbeda ke saya."

Merasa ada yang ganjil dengan penampilannya, Murni memakai busa yang diselipkan ke dalam beha. Akan tetapi, tak terlalu nyaman dipakai. Apalagi kalau sedang berenang.

"Kalau pakai busa, kadang geser-geser."

Rekonstruksi penampilan penyintas kanker payudara

Dwisanti, relawan di Komunitas Cancer Information and Support Center, lembaga nirlaba para penyintas kanker, menyebut hampir semua penyintas pasti berusaha merekonstruksi penampilannya pasca operasi. Itu demi mengembalikan kepercayaan diri.

"Bagaimanapun payudara itu bagian tubuh wanita, istilahnya harga diri kita. Kalau kehilangan pasti akan berasa. Saya sendiri, meski dibilang cukup siap, ketika bekerja kadang-kadang tidak nyaman. Seperti ada orang yang melihat kita aneh," ujarnya kepada BBC News Indonesia.

kanker payudara
Knoker, payudara palsu yang terbuat dari bahan rajutan.(Foto:DWISANTI)

Di beberapa rumah sakit, pasien kanker payudara ditawari melakukan rekonstruksi payudara dengan operasi plastik. Bisa menggunakan silikon atau mencangkok dari bagian tubuh si pasien. Hanya saja, biayanya bisa sampai puluhan juta dan tak ditanggung dana BPJS.

"Di Indonesia belum jadi tren rekonstruksi payudara, karena lumayan mahal."

Santi yang seorang dokter umum dan penyintas kanker, memiliki beberapa payudara palsu. Mulai dari silikon, busa, dan knoker atau rajutan khusus berbentuk payudara.

"Seperti orang berburu, mana yang nyaman sih."

Dari semua pilihan itu, Santi lebih sering menggunakan knoker. Meski kadang, kalau sedang beraktivitas banyak, bergeser.

"Tapi kalau banyak gerak, mungkin silikon pilihan yang bagus."

Dalam catatan Kementerian Kesehatan, ada dua jenis kanker yang paling banyak diderita masyarakat Indonesia, yakni kanker payudara dan kanker leher rahim (serviks).

Data per 31 Januari 2019, terdapat angka kanker payudara 42,1 per 100.000 penduduk dengan rata-rata kematian 17 per 100.000 penduduk.

Payudara buatan

Bermula dari niat membantu menumbuhkan kepercayaan diri penyintas kanker payudara, Desy Pujiarsi, belajar membuat payudara buatan dari silikon medical grade kepada seorang professor dari Jepang.

Bentuknya mirip payudara asli, ada puting dan aerola. Di bagian belakang, ada perekat yang bisa menempel ke kulit.

"Kalau bisa saya bilang hampir 85% seperti payudara asli dan kalau mau ngapainaja, posisi (payudara buatan) tidak akan berubah. Seperti menyatu dengan badan kita," ujar Desy kepada BBC News Indonesia ketika ditemui di rumah sekaligus kliniknya di kawasan Ciputat, Tangerang Selatan.

Tekstur payudara buatan itu lembut dan kenyal. Beratnya 350 gram, menyesuaikan dengan payudara asli. Perawatannya mudah, dibersihkan tiap kali dipakai. Tak boleh terpapar alkohol dan dapat bertahan dua sampai tiga tahun.

kanker payudaraPayudara buatan milik Desy Pujiarsi.(foto: BBC INDONESIA)

"Kalau kena benturan juga tidak apa-apa. Karena teksturnya lembut, bisa lindungi bekas jahitan."

Untuk membuat satu payudara, Desy butuh satu hari. Tapi itu, untuk model biasa atau disesuaikan pesanan. Lain lagi kalau si pemesan ingin dibuatkan yang mirip dengan payudara asli, perlu maksimal tiga hari.

"Saya siapkan beberapa kap sesuai ukuran payudara. Jadi tinggal dicari mana yang paling pas nanti dibikinkan sesuai ukuran. Nah kalau custom orangnya harus datang, diukur, kalau perlu dicetak. Kalau mau dilukis kayak ada urat-uratnya atau tahi lalat biar sama kayak dulu, juga bisa."

Harga satu payudara itu Rp2 juta karena bahan bakunya belum tersedia di dalam negeri, sehingga harus mengimpor dari Amerika Serikat.

Karena baru sebulan lalu selesai belajar membuat payudara palsu, Desy belum banyak mendapat pesanan. Murni Restu Ginanjar, sepupunya yang juga penyintas payudara, menjadi pasien pertama.

Perempuan 28 tahun ini, dulu terbiasa memakai busa yang diselipkan dalam beha. Ia baru ditawarkan menggunakan payudara palsu buaya Desy kira-kira beberapa minggu silam.

"Karena payudara yang saya pakai ini custom, jadi menyesuaikan payudara yang sebelah. Saya pakainya enak dan nyaman, enggak geser-geser," imbuhnya.

"Tidak berat sebelah sih, kayak payudara asli." (BBC Indonesia)


Artikel Sebelumnya
Minuman Manis 'tingkatkan Risiko Kematian Dini', Menurut Penelitian Harvard
Artikel Selanjutnya
Minum Aspirin Bagi Bukan Penderita Penyakit Jantung Dapat Berisiko

Upcoming Agenda
01 Juli 2019

Hari Buah Sedunia 2019

11 Juni 2019

Puncak acara Hari Tanpa Tembakau Sedunia 2019dan Penganugerahan Penghargaan Penegakan Implementasi KTR 2019

22 Juni 2019

Kegiatan Skrining FR PTM di Giant Pangkalpinang

29 Juli 2019

Kegiatan Pelatihan Pengendalian Kanker Serviks dan Payudara

Selengkapnya
Newsletter

Tetap terhubung dengan kami untuk Update info terbaru agenda-agenda PTM Kementerian Kesehatan Indonesia