Please enable JavaScript to view the comments powered by Disqus.
       
     
11 Februari 2017

Kelainan Refraksi pada Anak

Kelainan Refraksi pada Anak
Oleh : aulia

Sama seperti orang dewasa, anak-anak juga mungkin mengalami kelainan penglihatan atau rabun sehingga memerlukan penggunaan kacamata. Mari kita ulas lebih lanjut mengenai topik tersebut.

Setiap orangtua tentu menginginkan anak-anaknya bisa tumbuh besar dan belajar dengan baik sejak kecil. Daya penglihatan menjadi salah satu elemen penting. Namun terkadang anak bisa jadi mengalami gangguan penglihatan karena kelainan refraksi.

Kacamata akan membantu anak melihat dengan lebih jelas sehingga dapat membantu aktivitas anak seperti berjalan, membaca, dan sekolah.

Penggunaan kacamata dapat mencegah atau mengobati mata juling, juga gangguan refraksi lainnya.

Sayangnya di kalangan masyarakat, kita masih sering mendengar adanya anggapan bahwa memakai kacamata justru akan memperburuk kondisi mata atau membuat anak menjadi ketergantungan pada kacamata. Tentu saja ini tidak benar, karena justru apabila anak tidak menggunakan kacamata malah dapat memengaruhi perkembangan mata dan semakin lama dapat menjadi juling.

Perlu Pengamatan Orangtua

Bergantung pada usianya, anak tentu umumnya belum bisa menyampaikan secara langsung jika mereka mengalami gangguan refraksi. Untuk mengetahui apakah anak memiliki gangguan penglihatan, diperlukan pengawasan dari orang tua dan guru.

Gejala yang dapat diamati pada anak yang perlu kacamata antara lain:

-anak seringkali memicingkan mata untuk melihat sesuatu,

-nilai atau prestasi belajar turun karena anak tidak bisa melihat tulisan guru di papan,

-melihat tv dari jarak dekat,

-suka membaca karena anak merasa nyaman dapat melihat tulisan yang dekat dibanding aktivitas seperti main layangan atau main bola karena penglihatan jauhnya kabur,

-mengeluh pusing.

Tahap perkembangan penglihatan anak dapat diamati sejak dini:

bayi kurang dari 1 bulan akan mengerjap atau berkedip apabila terkena cahaya lampu senter,

pada umur 1,5 bulan pandangan bayi akan mengikuti arah cahaya,

pada usia 6 bulan, pandangan bayi dapat mengikuti benda yang bergerak, mencoba meraih mainan,

jangan tunggu anak besar untuk melakukan pemeriksaan kacamata karena apabila pemeriksaan terlambat akan terjadi mata malas atau amblyopia, akibat anak tidak terbiasa melihat dengan jelas maka pandangan akan seterusnya kabur dan mata dapat menjadi juling.

Macam-macam kelainan refraksi :

1. MIOPIA (RABUN JAUH)

Miopia adalah istilah kedokteran untuk rabun jauh dimana mata mampu melihat obyek yang dekat, tapi kabur bila melihat obyek yang jauh letaknya. Miopia dapat diturunkan oleh orang tuanya. Lazimnya miopia terjadi karena memanjangnya sumbu bola mata dan walaupun jarang dapat juga disebabkan perubahan kelengkungan kornea atau kelainan bentuk lensa mata. Pada miopia berkas cahaya yang masuk mata terfokus didepan retina. Cara mengatasi: gangguan penglihatan miopia dapat diatasi dengan penggunaan kacamata berlensa minus atau lensa kontak.

2. HIPERMETROPIA (RABUN DEKAT)

Hipermetropia adalah istilah kedokteran untuk rabun dekat, dimana pada saat melihat jauh kabur dan melihat obyek dekat lebih kabur lagi. Pada hipermetropia panjang sumbu bola mata lebih pendek dari pada orang normal, sehingga lensa mata tidak sanggup memfokuskan cahaya yang berasal dari obyek yang jauh dan dekat tepat pada retina. Cara mengatasi: Hipermetropia dikoreksi dengan kacamata berlensa plus atau lensa kontak.

3. ASTIGMATISME (SILINDER)

Astigmatisme adalah kelainan akibat kornea atau selaput bening mata tidak bulat seperti bola basket namun agak lonjong seperti telur. Kelainan refraksi adalah kelainan pembiasan cahaya sehingga bayangan tidak fokus tepat di retina mata yang mengakibatkan penglihatan menjadi kabur. Pada kondisi normal, saat mata beristirahat bayangan dapat fokus tepat di retina sehingga penglihatan tajam dan jelas. Cara mengatasi: Astigmatisme dapat dikoreksi dengan lensa berbentuk silinder, dengan sudut tertentu untuk menetralkan sudut kelonjongan kornea. Sudut silinder ini sangat penting agar mata benar-benar dikoreksi sesuai arah kekuatan lensa mata.

4. Strabismus

Ketidakmampuan memusatkan mata secara bersamaan, yang bisa terjadi sejak lahir (strabismus bawaan) atau berkembang di kemudian hari (strabismus dapatan).
Anak-anak yang keluarganya memiliki riwayat strabismus biasanya mudah terkena problem ini. Masalah ini bisa juga terjadi pada anak-anak yang berpenglihatan normal dan yang berpenglihatan lemah. Mereka dapat mengalami strabismus pada tahun ke-3, ketika mereka berusaha keras untuk memusatkan penglihatan pada benda-benda yang dekat, sehingga matanya menjadi juling. Biasanya, juling yang berkembang di kemudian hari akibat dari kelainan penglihatan yang lain seperti katarak, rabun dekat/jauh. Juga bisa terjadi karena masalah medis lain seperti Down Syndrome atau Cerebral Palsy.
menyeimbangkan penglihatan di kedua mata.

5. KATARAK

Adapun katarak, yang juga diderita sejak lahir, merupakan penyakit mata yang menyebabkan lensa mata menjadi keruh. Padahal, lensa mata merupakan salah satu media yang harus jernih. Penyebabnya bisa macam-macam. Salah satunya, rubela yang diderita ibu waktu hamil.
Jika waktu lahir retina (daerah bintik kuning) sudah keruh, berarti bayi tersebut terserang katarak. Cara mengatasi: Jika dokter anak mengizinkan, di usia dini pun dapat dilakukan operasi katarak untuk mengangkat keruh di lensa.Setelah menjalani operasi, bayi atau anak-anak biasanya akan diberi kacamata.


Artikel Sebelumnya
Kanker Payudara
Artikel Selanjutnya
Fakta Dan Angka Diabetes

Upcoming Agenda
01 Mei 2018

Hari Asma Sedunia

17 April 2018

Hari Hemofilia Sedunia

07 April 2018

Hari Kesehatan Sedunia

11 Maret 2018

Pekan Glaukoma Sedunia

Selengkapnya
Newsletter

Tetap terhubung dengan kami untuk Update info terbaru agenda-agenda PTM Departemen Kesehatan Indonesia