02 Januari 2019

Kampung tanpa rokok di Jakarta, turunkan jumlah perokok

Kampung tanpa rokok di Jakarta, turunkan jumlah perokok

Mural bertuliskan Bumi Sehat Tanpa Rokok di Kampung Penas Tanggul, Cipinang Selatan, Jakarta Timur (Foto : BBC Indonesia)

Oleh : P2PTM Kemenkes RI

Spanduk bertuliskan Kampung Tanpa Rokok terpasang di depan jalan menuju Kampung Penas Tanggul, Cipinang Selatan, Jakarta Timur, sejak beberapa bulan terakhir. Warga kampung mulai memberlakukan larangan merokok di dalam ruangan untuk mencegah penyakit akibat merokok.

Berbagai tulisan berwarna-warni berisi pesan agar tidak merokok, tampak di jalanan di kampung Penas Tanggul, yang terletak di pinggir Kali Cipinang, Jakarta Timur. Stiker berisi pesan agar tidak merokok di dalam rumah juga terpampang di setiap rumah warga yang dicat beraneka warna.

Namun, ketika saya datang ke kampung ini, seorang tukang sampah tampak merokok di dekat pos ronda, dan sejumlah puntung rokok tampak di depan rumah warga.

Joko Sundoko, salah satu inisiator kampung tanpa rokok, mengakui meski ada korban rokok, masih sulit untuk mengubah perilaku warga. Jadi untuk tahap awal larangan merokok baru diterapkan di dalam rumah.

"Karena merokok itu kan asapnya masih mengendap dalam rumah selama enam jadi, jadi ada beberapa tahap, awalnya kita jalani ini baru larangan merokok di dalam rumah," kata dia.

Joko mengatakan setelah ada inisiatif untuk membuat kampung warna-warni tanpa rokok, waktu itu enam orang warga melakukan studi ke dua kampung di Yogyakarta yang sudah menerapkannya, yaitu Code dan Umbulhardjo, dengan bantuan organisasi pemerhati masyarakat kota FAKTA.

Kampung tanpa rokok

         Foto : BBC Indonesia

Pegiat perkotaan dari FAKTA yang juga tinggal di kampung tersebut Sumiati mengatakan inisiatif itu dilakukan karena beberapa warga menderita penyakit akibat rokok, termasuk dirinya.

"Sebelumnya sudah banyak warga yang kena penyakit paru-paru di sini, akibat asap rokok sendiri dan orang lain dari keluarganya sendiri, saya juga pernah kena paru-paru walaupun saya tidak merokok tapi dari suami dan anak," kata dia.

Kementerian Kesehatan mengatakan peningkatan jumlah perokok dapat menyebabkan makin tingginya beban penyakit antara lain; asma, paru-paru, dan kanker yang bisa menyebabkan kematian, seperti disampaikan Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan, Lily Sriwahyuni.

"Prevalensi untuk asma sendiri 9,7 juta orang yang menderita asma, secara global lebih besar yang menderita asma, ini adalah upaya bersama bagaimana kita menjaga kesehatan kita bersama, dan mudah-mudahan bisa direplikasi di tempat lain," kata dia.

Hak atas fotoBBC INDONESIA

Data Badan Kesehatan Dunia WHO menyebutkan jumlah perokok di Indonesia berada diurutan ketiga dunia setelah India dan Cina. Data kemenkes menunjukkan jumlah perokok muda yang jumlahnya semakin meningkat dalam beberapa tahun terakhir.

"Ya karena law enforcementnya untuk anak-anak yang membeli rokok sangat kurang, padahal promosi sasarannya mereka," kata Lily.

Berbagai upaya untuk menurunkan jumlah perokok telah dilakukan pemerintah, antara lain kerja sama dengan kepala daerah - kepala daerah untuk menerapkan kawasan bebas rokok di wilayahnya, dengan menetapkan kawasan bebas rokok.

"Selain itu kami juga berharap semakin banyaknya inisiatif warga ini direplikasi di tempat lain." jelas Lily.

Di tahun 2030 diperkirakan angka kematian akibat merokok di dunia akan mencapai 10 juta jiwa dan 70% diantaranya berasal dari negara berkembang.

Di Kampung Penas, sebagian besar warga mendukung, tetapi ada juga yang menolak terutama para perokok berat.

"Ya memang ada yang menolak juga terutama perokok, tapi banyak yang mendukung termasuk pak RT dan lurah juga," kata dia.

Inisiator Kampung Bebas Roko, Joko Sundoko mengatakan, sosialisasi terus dilakukan dengan harapan dapat menurunkan jumlah perokok dan pencegahan merokok di kalangan remaja.

Joko yang biasanya menghabiskan uang Rp120.000 untuk membeli rokok per hari, saat ini sudah berhenti merokok.

"Dulu habis sama rokok saya, ga pernah jalan sama anak-anak, sekarang bisa berenang dan tabungan juga untuk keluarga," kata Joko.

Secara fisik pun, Joko mengaku lebih sehat.

"Dulu saya jalan jauh itu ngos-ngosan kayak capek, sekarang napas saya lebih plong gitu," kata dia.

Sejauh ini, Kampung Penas Tanggul tidak menerapkan sanksi bagi warga yang melanggar aturan. Tapi mungkin akan ada anggota keluarga yang menegur perokok yang masih juga membandel.

"Biasanya sih anak-anak yang menegur orangtuanya," kata dia. (BBC)


Artikel Sebelumnya
Investasi Asing Untuk Industri Tembakau: Naiknya Konsumen Rokok Atau Tenaga Kerja?
Artikel Selanjutnya
Kapan Waktu Terbaik Dalam Setahun Untuk Membuat Keputusan Penting?