13 Oktober 2018

Indonesia Targetkan Penurunan Angka Kebutaan pada 2020

Indonesia Targetkan Penurunan Angka Kebutaan pada 2020

Menteri Kesehatan Nila Moeloek memberi sambutan pada peringatan hari Penglihatan Sedunia di Surabaya, Jumat (12/10). (foto: Petrus Riski/VOA)

Oleh : P2PTM Kemenkes RI

Tanggal 11 Oktober diperingati sebagai Hari Penglihatan Sedunia, yang pada puncak peringatannya di Surabaya ditandai dengan peluncuran Sistem Informasi Penanggulangan Gangguan Mata (Sigalih). Berbagai upaya dilakukan termasuk memanfaatkan aplikasi Sigalih, untuk mempercepat penanggulangan dan pengurangan angka gangguan penglihatan di Indonesia.

Hingga tahun 2017, prevalansi kasus kebutaan di Jawa Timur adalah yang tertinggi di Indonesia, yaitu 4,4 persen. Sekitar 2,9 persen kasus kebutaan diakibatkan oleh katarak. Secara angka, gangguan penglihatan di Jawa Timur hingga kini mencapai sekitar 176.000 orang, dengan angka katarak sebanyak sekitar 41.000 orang.

Angka yang masih cukup tinggi ini membuat Menteri Kesehatan Nila Moeloek mendorong para dokter mata yang tergabung dalam Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia (Perdami) untuk lebih sering melakukan bakti sosial operasi katarak. Upaya lain yang dilakukan Kementerian Kesehatan adalah meluncurkan aplikasi Sigalih, atau Sistem Informasi Penanggulangan Gangguan Mata, yang dapat melakukan deteksi dini kelainan mata secara tepat, yang selanjutnya dapat diambil tindakan berupa operasi katarak.

“Jadi kita sebenarnya mesti kerja keras sekali, ini sudah tinggal dua tahun lagi. Oleh karena itu, kita bikin sistem Sigalih itu betul-betul, bahwa yang mana yang harus dioperasi insyaallah itu kemudian akan bisa dilakukan. Kami juga, saya menghargai upaya dokter mata ini, mereka punya kelebihan, mereka bisa melakukan bakti sosial operasi katarak, jadi tidak hanya mengikuti BPJS, tetapi bisa mandiri, tapi juga ada yang disebut bakti sosial,” ungkap Nila.

Nila menambahkan, operasi katarak saat ini merupakan cara untuk mengatasi mata katarak, namun masih perlu terus dilakukan kampanye pencegahan dan sosialisasi pentingnya kesehatan mata. Ia menargetkan penurunan angka gangguan mata, khususnya katarak, agar masyarakat Indonesia lebih sejahtera karena dapat bekerja dengan baik tanpa ada gangguan penglihatan.

“Lima ratus ribu minimal kita harus lakukan operasi katarak, per tahun. Kekuatan kita, kita perhitungkan baik dengan adanya kekuatan dokter mata, kekuatan finacial dan sebagainya, kita ambil, cut dulu di 200 (ribu). 500 ribu saja dilakukan operasi itu sudah lebih baik, karena kalau enggak, sisanya jadi backlog, nanti tahun depan jadi satu setengah juta, terus menerus seperti itu,” tambahnya.

Menteri Kesehatan Nila Moeloek (kanan) meninjau stand yang menyediakan pelayanan periksa dini katarak dan gangguan mata lainnya. (foto Petrus Riski/VOA)
Menteri Kesehatan Nila Moeloek (kanan) meninjau stand yang menyediakan pelayanan periksa dini katarak dan gangguan mata lainnya. (foto Petrus Riski/VOA)

Operasi Katarak Turunkan Angka Kebutaan 25 Persen

Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur menargetkan 66.000 hingga 81.000 tindakan operasi katarak dapat dilakukan, untuk menurunkan angka penderita katarak di Jawa Timur hingga target tahun 2020. Tindakan operasi katarak secara intensif diharapkan dapat menurunkan angka kebutaan sebesar 25 persen, atau menjadi 3,3 persen pada tahun 2020.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur, Kohar Hari Santoso mengatakan, meski tertinggi dalam hal kasus gangguan penglihatan, Jawa Timur juga yang terbaik dalam upaya menangani kasus kebutaan.

“Kita tertinggi di antara provinsi yang lain, tapi dari capaian yang sudah kita kerjakan juga yang paling tinggi, jadi dibanding kegiatan kita, survelancenya bagus, jalan, kemudian penanganan juga sudah bagus,” ujar Kohar.

Wakil Direktur RSUD Dr. Soetomo Surabaya, Hendrian mengatakan, tingginya gangguan mata, termasuk katarak di Jawa Timur, disebabkan oleh beberapa faktor, salah satunya paparan sinar matahari langsung yang dapat mengganggu penglihatan. Pencegahan dapat dilakukan, di antaranya dengan melindungi mata dari paparan langsung sinar ultraviolet.

“Geografis di Jawa Timur itu daerah pantai, sehingga banyak masyarakat yang terpapar ultraviolet sehingga insidennya banyak. Memakai pelindung mata, salah satunya pakai topi, pakai payung, pakai kaca mata anti UV pada saat terpapar sinar matahari, tapi dengan adanya program-program dari dinas kesehatan, maupun mengadakan kerja sama, bakti sosial, maupun rutin operasi di klinik maupun di rumah sakit, maka angka itu akan turun di periode kedepannya,” pungkasnya. [pr/em-VOA]


Artikel Sebelumnya
Usia Harapan Hidup 2040: China Dan Indonesia Naik, As Dan Jepang Turun
Artikel Selanjutnya
Who Usulkan Kebijakan Untuk Selamatkan 10 Juta Jiwa Tahun 2025