Please enable JavaScript to view the comments powered by Disqus.
       
     
08 Februari 2017

5 Penyakit Gangguan Pendengaran dan Ketulian yang Dapat Dicegah

5 Penyakit Gangguan Pendengaran dan Ketulian yang Dapat Dicegah
Oleh : aulia

Data dari WHO menyatakan bahwa ada 360 juta atau 5% orang di seluruh dunia yang mengalami kecacatan akibat gangguan pendengaran. Lebih kurang setengahnya terdapat di Asia Tenggara yang memiliki prevalensi ketulian cukup tinggi yaitu 4.6% termasuk di Indonesia. Fakta ini cukup memprihatikan karena separuh dari gangguan pendengaran dapat dicegah. Banyak kasus gangguan pendengaran dianggap lumrah dan dibiarkan saja. Ada juga yang malu dan menyembunyikannya. Secara medis, yang dimaksud dengan gangguan pendengaran adalah ketidakmampuan seseorang untuk mendengar suara dengan batas percakapan normal, yaitu 25 dB. Gangguan pendengaran dikatakan menimbulkan disabilitas jika baru dapat mendengar suara dengan intensitas lebih dari 40 dB pada dewasa, dan lebih dari 30 dB pada anak-anak.

Penyebab Tuli Berat ringannya gangguan pendengaran dapat dibagi menjadi ringan, sedang, berat, dan sangat berat. Yang disebut dengan ketulian biasanya adalah gangguan pendengaran yang sudah sangat berat, dengan kemampuan mendengar suara yang intensitasnya di atas 95 dB, sehingga hanya dapat berkomunikasi melalui bahasa isyarat. Ia dapat mengenai satu atau kedua telinga, dan menyebabkan kesulitan dalam mendengar percakapan atau suara yang keras. Gangguan pendengaran dan ketulian terjadi karena adanya gangguan pada penghantaran suara di dalam telinga. Mulai dari telinga bagian luar, tengah, dalam, ataupun pada saraf pendengaran dan otak. Meski tuli terkenal sebagai penyakitnya orang lanjut usia, namun akhir-akhir ini jumlah penderita gangguan pendengaran dan ketulian di kalangan anak-anak dan dewasa muda khususnya semakin meningkat. Gangguan pendengaran dan ketulian dapat disebabkan oleh kelainan kongenital (cacat lahir) maupun didapat setelah dewasa. Terjadinya ketulian kongenital dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti faktor keturunan, infeksi campak atau sifilis yang diderita ibu saat hamil, berat badan lahir rendah, asfiksia (kekurangan oksigen saat baru lahir), penggunaan obat tertentu saat ibu sedang hamil, dan lahir prematur. Sedangkan gangguan pendengaran yang didapat kemudian, dapat disebabkan oleh infeksi seperti meningitis, campak, dan gondongan, infeksi kronik pada telinga (congekan), penumpukan cairan di dalam telinga, penggunaan obat yang bersifat ototoksik atau merusak telinga, benturan pada kepala, mendengar suara yang terlalu keras (seperti ledakan bom, konser musik), penuaan, tumor, serta tersumbatnya liang telinga.

Tips mencegah ketulian

Lebih dari separuh ketulian sebenarnya dapat dicegah, terutama yang bersifat didapat. Berikut beberapa langkah mencegah ketulian:

• Memberikan imunisasi pada anak dan wanita usia subur sebelum hamil.

• Pemeriksaan teratur dan pengobatan sifilis serta infeksi lainnya pada wanita hamil.

• Menghindari penggunaan obat-obatan yang bersifat ototoksik jika risiko lebih besar dari manfaatnya.

• Memeriksakan bayi yang berisiko mengalami ketulian.

• Menghindari dan mengurangi paparan suara bising, baik di tempat kerja ataupun saat mendengarkan musik.

• Jangan pernah memasukkan apapun ke dalam telinga selain obat dari dokter.

5 penyakit penyebab ketulian yang dapat dicegah adalah :

1. Congek (OMSK) Sebagian orang indonesia mengenal kondisi ini dengan istilah ‘congek’, yaitu infeksi pada daerah telinga bagian tengah yang disebabkan oleh bakteri atau virus. Infeksi tersebut dapat terjadi saat terkumpulnya cairan dibelakang gendang telinga. Pada anak kecil, cairan tersebut dapat muncul karena bagian-bagian telinga masih belum berkembang sempurna.

2. Tuli sejak lahir (Kongenital) Beberapa anak terlahir dengan gangguan pendengaran atau keadaan tuli, para ahli menduga hal ini disebabkan oleh faktor genetis atau keturunan. Ganguan telinga bawaan dapat pula dipicu olek kelainan medis seperti diabetes atau toxemia pada ibu yang sedang mengandung, bayi yang terlahir prematur mempunyai resiko lebih tinggi untuk mengalami gangguan pendengaran atau ketulian.

3. Tuli akibat bising Terjadi akibat pemaparan bising melebihi kemampuan alat pendengaran (koklea), biasa terjadi pada pekerja industri, akibat modernisasi dan kemajuan industri, gaya hidup (pemakaian earphone yang berlebihan)

4. Tuli orang tua (Presbikusis) Terjadi karena proses alami yang akhir-akhir ini angkanya meningkat karena usia harapan hidup juga meningkat.

5. Serumen (Kotoran Telinga) Dari penelitian di beberapa SD berbagai kota di Indonesia, ternyata angka kotoran telinga pada anak-anak ini berkisar 30-50%, padahal bertumpuknya kotoran telinga merupakan salah satu penyebab kematian.


Artikel Sebelumnya
Etika Pelayanan Paliatif Untuk Kanker
Artikel Selanjutnya
Gejala Awal Serangan Jantung - Jangan Abaikan!

Upcoming Agenda
01 Mei 2018

Hari Asma Sedunia

17 April 2018

Hari Hemofilia Sedunia

07 April 2018

Hari Kesehatan Sedunia

11 Maret 2018

Pekan Glaukoma Sedunia

Selengkapnya
Newsletter

Tetap terhubung dengan kami untuk Update info terbaru agenda-agenda PTM Departemen Kesehatan Indonesia